AYAH MERTUAKU MENIDURIKU
AYAH MERTUAKU MENIDURIKU - Rina mematut diri di depan cermin. Ini merupakan hri yg paling di nantikannya, hri pernikahannya. Ada tidak sedikit argumen mengapa hasilnya dirinya bersedia menikah dgn Hans. & sex merupakan salah satunya, biarpun Hans cuma memiliki satu buah penis yg mungil saja. Tapi sex bersama lelaki lain jadi jauh lebih menyenangkan walaupun sejak Hans sudah menyematkan suatu cincin berlian di jarinya. Beliau merasa bersalah & membutuhkannya dalam dikala yg bersamaan, tiap-tiap kali ia merasakan cincin tersebut di jarinya ketika lelaki lain sedang meyetubuhi vaginanya yg dijanjikannya cuma utk Hans.
Ia ingat disaat tengah malam di mana Hans melamarnya. Beliau tersenyum, mengangguk & berbicara “ya”, menciumnya & menikmati bagaimanakah nyamannya rasa menggunakan cincin berlian yg begitu mahal tersebut. & sesudah makan tengah malam dgn Hans itu, dirinya segera menghubungi Alan, demikian mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan bersama tidak dengan mengenakan selembar pakaianpun utk menutupi tubuhnya yg berbaring menunggu di atas area tidurnya, cincin berlian yg baru saja diberikan oleh Hans ialah satu-satunya benda yg melekat di badan telanjangnya. Ada desiran aneh terasa diwaktu matanya menangkap kilauan cincin berlian itu ketika tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar kala tangannya mencakup ke-2 payudaranya dgn sperma Alan yg melumuri cincin itu. & oergasme yg diraihnya tengah malam itu, yg pasti saja dgn lelaki lain tidak cuma tunangannya, teramat hebat - tangan yg tidak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dgn serentak sedangkan beliau menjilati sperma Alan yg berada di cincin berliannya. Ia jadi ketagihan dgn perihal ini & berencana bakal melakukannya lagi kelak kepada kala upacara perkawinannya kelak.
Waktu ini, dirinya memandangi pantulan ia di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dirinya nampak elegan, & dirinya sadar bakal hal tersebut. Rina tersenyum. Ia membayangkan kelak kepada upacara pernikahannya, kawan-kawan Hans dapat tidak sedikit yg hadir & bakal tidak sedikit lelaki lain yg bakal dipilihnya salah satunya buat memenuhu fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, & dirinya membayangkan apa yg dapat dilakukannya buat menciptakan hri ini lebih kumplit & sempurna, disaat lonceng berbunyi kelak di narasi sex dewasa.
Disaat beliau mengakses pintu, ayah Hans, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap buat menjemputnya & mengantarnya ke gereja. Rina menarik nafas dalam-dalam. Dirinya tahu lelaki di hadapannya ini amat sangat merangsangnya - sekian banyak bln belakangan ini dirinya sudah berikhtiar utk menggodanya, & ia sempat mendengar lelaki ini melaksanakan masturbasi di kamar mandi disaat ia datang berkunjung ke rumah Hans, menyebutkan namanya. Rina belum tentu apakah gampang nantinya utk menggoda Darma supaya hasilnya ingin bersetubuh dengannya, tetapi sekarang ini beliau dapat mencari tahu berkenaan hal itu. Dirinya tersenyum lebar kala menangkap mata Darma yg manatap tubuhnya yg dibalut gaun pengantin ketat utk sekian banyak diwaktu.
“Ayah” tegurnya, & memberinya satu buah ciuman mungil di pipinya. Parfumnya yg menggoda menyelimuti penciuman Darma. “Ayah datang terlampaui serentak, saya belum siap. Tetapi ayah mampu membantuku.” Digenggamnya tangan Darma & menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, lokasi yg dapat serentak ditinggalkannya kelak sesudah menikah bersama Hans dgn narasi sex dewasa.
Darma mengikutinya dgn dada yg berbar kencang. Ini merupakan dikala yg diimpikannya. Ia heran gimana anaknya yg pemalu & mampu dikatakan kurang pergaulan itu mampu menikahi satu orang perempuan jelita & menggoda seperti ini, tetapi ia suka sebab nantinya beliau bakal memiliki lebih tidak sedikit diwaktu lagi utk berdekatan dgn perempuan ini. “Apa yg mampu ku bantu?”
Rina berakhir di area tengahnya yg nyaman dulu duduk di suatu meja.
“Aku belum memasang kaitan stockingku… & waktu ini, bersama baju ini… saya kesusahan buat memasangnya.”
Suaranya terdengar manis, tetapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yg dibungkus bersama stocking putih & sepatu bertumit tinggi serentak terpampang.
“Bisakah ayah membantuku memasangnya?”
Darma ragu-ragu utk sekian banyak dikala. Jantungnya berdetak makin langsung. Apakah ini satu buah “undangan” buat sesuatu yg lain lagi, ataukah cuma suatu permintaan tolong yg biasa saja? Beliau mengangguk.
“Oh, tentu…” dirinya berlutut di hadapan calon istri anaknya & bergerak mendapati kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar disaat Rina dgn pelan mengangkat kakinya . Darma berikhtiar utk memasangkan kaitan stocking itu.
Rina menggigit bibir bawahnya menggoda, & lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yg dibalut stocking putih. Beliau bisa merasakan suatu perasaan yg tidak asing mulai sejak bergejolak dalam dadanya., suatu tekanan nikmat yg menciptakan nafasnya makin sesak, menciptakan nafasnya makin memburu, & membuatnya makin melebarkan kakinya. Beliau sanggup merasakan cairannya mulai sejak membasahi. Kaitan itu hasilnya terpasang disekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tidak percaya apakah dirinya telah memasangkan dgn benar.
“Ayah, mestinya lebih ke atas lagi…” tangan calon ayah mertuanya yg berada sedikit di bawah vaginanya membuatnya jadi berdenyut bersama liar.
Keragu-raguan itu cuma bersi kukuh buat sekian banyak diwaktu saja. Tangan Darma menarik kaitan itu makin ke atas disaat calon istri anaknya menyambung mengangkat gaun pengantinnya makin naik. Dirinya menelan ludah membasahi tenggorokannya yg terasa kering dikala hasilnya kaitan itu terpasang terhadap tempatnya di bidang paling atas stockingnya. Ia percaya akan mencium aroma dari vagina Rina sekarang ini, yg menciptakan jantungnya seakan hendak melompat ke luar dari dadanya. Tangannya berakhir, kaitan stocking itu melingari bidang atas paha Rina… & ia merasakan sektor gaun pengantin itu terjatuh waktu Rina melepaskan sebelah pegangannya utk mendapatkan sektor belakang kepalanya & mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke vaginanya, & Darma menemukan ga ada celana dalam yg terpasang di sana.
Rina melenguh & memejamkan matanya waktu harapannya terkabul. Darma tidak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat pas kepada bibir vaginanya, & Rina makin basah bersama cairan gairahnya. Dgn sebelah tangan yg masihlah menahan gaun pengantinnya ke atas, & yg satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yg terbakar, beliau sejak mulai menggoyangkannya perlahan. Ini serasa di surga, & menyadari apa yg diperbuatnya cocok di hri pernikahannya menciptakan tubuhnya makin menggelinjang. Dirinya mengerang diwaktu lidah Darma memasuki lubangnya, & lidah itu mulai sejak bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dgn cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruangan tengah rumah kontrakannya.
Makin Rina menggelinjang, makin keras serta Darma menghisapnya.
“Oh ya ayah… jilat vaginaku… untuk saya orgasme sebelum saya mengucapkan janjiku terhadap putramu… kumohon…” perasaan salah bakal apa yg mereka perbuat menciptakan Rina bersama serentak mendapati orgasmenya, & nyaris saja ia rubuh menimpa Darma. Ini bukan seperti orgasme yg biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yg menggulung tubuhnya, merenggut tiap-tiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.
Cairan Rina terasa nikmat terhadap lidah Darma, dirinya menjilat & menghisap vaginanya seperti seseorang lelaki yg kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi sektor depan tuxedonya.
Rina kembali menggelinjang, dulu bersama pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Hans. Dulu beliau terhubung resleting di bidang belakang gaunnya & membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Beliau melangkah ke luar dari tumpukan gaun pengantinnya yg tergeletak di atas lantai, cuma mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, & pasti saja stocking beserta kaitannya yg baru saja dipasangkan Darma kepada pahanya. Rina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dgn cairannya.
“Aku dapat ke kamar mandi buat membetulkan make-up, seandainya ayah memerlukan sesuatu…” dirinya berbicara dgn mengedipkan matanya. Darma menatapnya melenggang & menghilang di balik pintu, demikian feminim & menggoda. Cuma sekian banyak detik setelah itu beliau menyusulnya.
Ketika dirinya memasuki kamar mandi & berdiri di depan satu buah cermin diatas washtafel, & telah mengenakan satu buah celana dalam berwana putih. Darma tahu bila ini merupakan salah satu godaannya yg manis, & dirinya sudah siap buat main-main bersamanya.
Ketika beliau memasuki kamar mandi & berdiri di depan satu buah cermin di atas washtafel, & telah mengenakan suatu celana dalam berwana putih. Darma tahu jika ini merupakan salah satu godaannya yg manis, & beliau sudah siap utk main bersamanya.
Rina melihatnya masuk, & bersama suatu aktivitas yg menawan terhubung lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bidang depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yg tetap ditutupi bra. Rina tersenyum. “Tapi ayah, bukankah ini tidak pantas dilakukan oleh satu orang ayah calon pengantin laki laki?”
Darma memandangi gimana bibir Rina yg terhubung dikala berbicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring bersama tangannya yg meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Tak se patut apa yg dapat kulakukan padamu.”
Rina menggigit bibirnya & mendorong pantatnya menekan penisnya yg mengeras.
“Aku nggak sabar,” bisiknya.
Sejenak setelah itu Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya diwaktu dirinya melepaskan sabuk & membiarkan celananya jatuh turun. Dgn gampang tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik nafas dalam-dalam ketika dirinya merasakan daging kepala penisnya menekan bibir vaginanya yg masihlah basah.. Ia mengerang & memegangi tepian washtafel diwaktu dgn perlahan Darma mulai sejak mendorongkan batang penis itu memasukinya. Rina merasakan bibir vaginanya jadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bidang dalamnya melebar utk menerimanya.
“Apa ini terasa lebih baik dari penis putaku?” Darma tersenyum puas. Ia tahu se berapa ukuran penis putranya, & dirinya percaya jika putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa teramat fantastis kepada batang penisnya, dgn serta-merta dirinya sadar jika dirinya pantas buat menyetubuhi calon menantunya paling sering di bandingkan putranya. & beliau meraih firasat seandainya beliau dapat melakukannya kapanpun mereka mempunyai peluang.
“Oh brengsek!!! Ya Ayah… ayo… beri saya yg paling baik buat merayakan pernikahanku dgn putra kecilmu.” ia lebih membungkuk ke bawah, & merasakan tangan Darma terhadap pinggulnya. Dirinya mencengkeramnya bersama erat & sejak mulai memompanya ke luar masuk. Mereka sadar bakal terlambat menghadiri upacara pernikahan, namun Darma menentukan vagina sang mempelai perempuan memang lah berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yg lama. Rina mengerang & menjerit & bergoyang terhadap batang penis itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin kala menyalurkan nafsu terlarang mereka.
Rina merasa amat amat sangat nakal, disetubuhi bersama patut & keras oleh ayah calon suaminya cocok sebelum upacara pernikahannya. Darma merasakan vaginanya mengencang terhadap batang penisnya, & kali ini, dirinya merasa seluruhnya badan Rina mengejang sepanjang orgasmenya. Perempuan ini merupakan pemandangan paling indah yg sempat disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti suatu busur panah yg direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan bakal merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya ketika dirinya konsisten menyetubuhinya.
Beliau sudah membuatnya mendapati orgasme seperti ini tatkala tiga kali, sampai ia hampir rubuh diatas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya nyaris terasa kelelahan utk orgasme lagi. Tetapi Darma tahu dengan cara apa membawanya ke sana.
“Kamu menginginkan spermaku, iya kan, Rina? Anda mau biar saya mengisimu & menciptakan vaginamu terlumuri spermaku yg telah mengering ketika terjadi di altar pernikahanmu, benar kan perempuan jalangku?”
“Oh ya… yaaa!” sang pengantin perempuan sejak mulai kesusahan bernafas, & Darma mampu merasakannya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yg ia sanggup, bersama tiap-tiap dorongan yg keras, & cepat saja ia merasakan sensasi terbakar itu A?a,?AEs & beliau tahu beliau tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Pas kala penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yg tidak sedikit ke dalam kandungannya, beliau merasakan badan Rina menegang & orgasme utk sekali lagi.
Dicabutnya batang penisnya ke luar, menonton lelehan sperma yg mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum. “Aku bakal menunggu di mobil, Rina…”
Perlahan Rina bangkit, masihlah menggelenyar dikarenakan sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut & bocor. “Mmm, okelah ayah.”
Dirinya memutuskan buat lakukan “tradisinya” & & mengorek sperma ayah Hans dari pahanya dgn jari tangan kirinya yg dilingkari oleh cincin berlian pemberian Hans.
Ketika Darma menonton mempelai perempuan putranya masuk ke dalam mobil, telah rapi & bersih, nampak segar pun berbinar wajahnya & siap utk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yg terpantul dari kaca mobil yaitu waktu Rina memandang pas di matanya & menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya…
Ia ingat disaat tengah malam di mana Hans melamarnya. Beliau tersenyum, mengangguk & berbicara “ya”, menciumnya & menikmati bagaimanakah nyamannya rasa menggunakan cincin berlian yg begitu mahal tersebut. & sesudah makan tengah malam dgn Hans itu, dirinya segera menghubungi Alan, demikian mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan bersama tidak dengan mengenakan selembar pakaianpun utk menutupi tubuhnya yg berbaring menunggu di atas area tidurnya, cincin berlian yg baru saja diberikan oleh Hans ialah satu-satunya benda yg melekat di badan telanjangnya. Ada desiran aneh terasa diwaktu matanya menangkap kilauan cincin berlian itu ketika tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar kala tangannya mencakup ke-2 payudaranya dgn sperma Alan yg melumuri cincin itu. & oergasme yg diraihnya tengah malam itu, yg pasti saja dgn lelaki lain tidak cuma tunangannya, teramat hebat - tangan yg tidak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dgn serentak sedangkan beliau menjilati sperma Alan yg berada di cincin berliannya. Ia jadi ketagihan dgn perihal ini & berencana bakal melakukannya lagi kelak kepada kala upacara perkawinannya kelak.
Waktu ini, dirinya memandangi pantulan ia di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dirinya nampak elegan, & dirinya sadar bakal hal tersebut. Rina tersenyum. Ia membayangkan kelak kepada upacara pernikahannya, kawan-kawan Hans dapat tidak sedikit yg hadir & bakal tidak sedikit lelaki lain yg bakal dipilihnya salah satunya buat memenuhu fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, & dirinya membayangkan apa yg dapat dilakukannya buat menciptakan hri ini lebih kumplit & sempurna, disaat lonceng berbunyi kelak di narasi sex dewasa.
Disaat beliau mengakses pintu, ayah Hans, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap buat menjemputnya & mengantarnya ke gereja. Rina menarik nafas dalam-dalam. Dirinya tahu lelaki di hadapannya ini amat sangat merangsangnya - sekian banyak bln belakangan ini dirinya sudah berikhtiar utk menggodanya, & ia sempat mendengar lelaki ini melaksanakan masturbasi di kamar mandi disaat ia datang berkunjung ke rumah Hans, menyebutkan namanya. Rina belum tentu apakah gampang nantinya utk menggoda Darma supaya hasilnya ingin bersetubuh dengannya, tetapi sekarang ini beliau dapat mencari tahu berkenaan hal itu. Dirinya tersenyum lebar kala menangkap mata Darma yg manatap tubuhnya yg dibalut gaun pengantin ketat utk sekian banyak diwaktu.
“Ayah” tegurnya, & memberinya satu buah ciuman mungil di pipinya. Parfumnya yg menggoda menyelimuti penciuman Darma. “Ayah datang terlampaui serentak, saya belum siap. Tetapi ayah mampu membantuku.” Digenggamnya tangan Darma & menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, lokasi yg dapat serentak ditinggalkannya kelak sesudah menikah bersama Hans dgn narasi sex dewasa.
Darma mengikutinya dgn dada yg berbar kencang. Ini merupakan dikala yg diimpikannya. Ia heran gimana anaknya yg pemalu & mampu dikatakan kurang pergaulan itu mampu menikahi satu orang perempuan jelita & menggoda seperti ini, tetapi ia suka sebab nantinya beliau bakal memiliki lebih tidak sedikit diwaktu lagi utk berdekatan dgn perempuan ini. “Apa yg mampu ku bantu?”
Rina berakhir di area tengahnya yg nyaman dulu duduk di suatu meja.
“Aku belum memasang kaitan stockingku… & waktu ini, bersama baju ini… saya kesusahan buat memasangnya.”
Suaranya terdengar manis, tetapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yg dibungkus bersama stocking putih & sepatu bertumit tinggi serentak terpampang.
“Bisakah ayah membantuku memasangnya?”
Darma ragu-ragu utk sekian banyak dikala. Jantungnya berdetak makin langsung. Apakah ini satu buah “undangan” buat sesuatu yg lain lagi, ataukah cuma suatu permintaan tolong yg biasa saja? Beliau mengangguk.
“Oh, tentu…” dirinya berlutut di hadapan calon istri anaknya & bergerak mendapati kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar disaat Rina dgn pelan mengangkat kakinya . Darma berikhtiar utk memasangkan kaitan stocking itu.
Rina menggigit bibir bawahnya menggoda, & lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yg dibalut stocking putih. Beliau bisa merasakan suatu perasaan yg tidak asing mulai sejak bergejolak dalam dadanya., suatu tekanan nikmat yg menciptakan nafasnya makin sesak, menciptakan nafasnya makin memburu, & membuatnya makin melebarkan kakinya. Beliau sanggup merasakan cairannya mulai sejak membasahi. Kaitan itu hasilnya terpasang disekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tidak percaya apakah dirinya telah memasangkan dgn benar.
“Ayah, mestinya lebih ke atas lagi…” tangan calon ayah mertuanya yg berada sedikit di bawah vaginanya membuatnya jadi berdenyut bersama liar.
Keragu-raguan itu cuma bersi kukuh buat sekian banyak diwaktu saja. Tangan Darma menarik kaitan itu makin ke atas disaat calon istri anaknya menyambung mengangkat gaun pengantinnya makin naik. Dirinya menelan ludah membasahi tenggorokannya yg terasa kering dikala hasilnya kaitan itu terpasang terhadap tempatnya di bidang paling atas stockingnya. Ia percaya akan mencium aroma dari vagina Rina sekarang ini, yg menciptakan jantungnya seakan hendak melompat ke luar dari dadanya. Tangannya berakhir, kaitan stocking itu melingari bidang atas paha Rina… & ia merasakan sektor gaun pengantin itu terjatuh waktu Rina melepaskan sebelah pegangannya utk mendapatkan sektor belakang kepalanya & mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke vaginanya, & Darma menemukan ga ada celana dalam yg terpasang di sana.
Rina melenguh & memejamkan matanya waktu harapannya terkabul. Darma tidak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat pas kepada bibir vaginanya, & Rina makin basah bersama cairan gairahnya. Dgn sebelah tangan yg masihlah menahan gaun pengantinnya ke atas, & yg satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yg terbakar, beliau sejak mulai menggoyangkannya perlahan. Ini serasa di surga, & menyadari apa yg diperbuatnya cocok di hri pernikahannya menciptakan tubuhnya makin menggelinjang. Dirinya mengerang diwaktu lidah Darma memasuki lubangnya, & lidah itu mulai sejak bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dgn cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruangan tengah rumah kontrakannya.
Makin Rina menggelinjang, makin keras serta Darma menghisapnya.
“Oh ya ayah… jilat vaginaku… untuk saya orgasme sebelum saya mengucapkan janjiku terhadap putramu… kumohon…” perasaan salah bakal apa yg mereka perbuat menciptakan Rina bersama serentak mendapati orgasmenya, & nyaris saja ia rubuh menimpa Darma. Ini bukan seperti orgasme yg biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yg menggulung tubuhnya, merenggut tiap-tiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.
Cairan Rina terasa nikmat terhadap lidah Darma, dirinya menjilat & menghisap vaginanya seperti seseorang lelaki yg kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi sektor depan tuxedonya.
Rina kembali menggelinjang, dulu bersama pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Hans. Dulu beliau terhubung resleting di bidang belakang gaunnya & membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Beliau melangkah ke luar dari tumpukan gaun pengantinnya yg tergeletak di atas lantai, cuma mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, & pasti saja stocking beserta kaitannya yg baru saja dipasangkan Darma kepada pahanya. Rina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dgn cairannya.
“Aku dapat ke kamar mandi buat membetulkan make-up, seandainya ayah memerlukan sesuatu…” dirinya berbicara dgn mengedipkan matanya. Darma menatapnya melenggang & menghilang di balik pintu, demikian feminim & menggoda. Cuma sekian banyak detik setelah itu beliau menyusulnya.
Ketika dirinya memasuki kamar mandi & berdiri di depan satu buah cermin diatas washtafel, & telah mengenakan satu buah celana dalam berwana putih. Darma tahu bila ini merupakan salah satu godaannya yg manis, & dirinya sudah siap buat main-main bersamanya.
Ketika beliau memasuki kamar mandi & berdiri di depan satu buah cermin di atas washtafel, & telah mengenakan suatu celana dalam berwana putih. Darma tahu jika ini merupakan salah satu godaannya yg manis, & beliau sudah siap utk main bersamanya.
Rina melihatnya masuk, & bersama suatu aktivitas yg menawan terhubung lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bidang depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yg tetap ditutupi bra. Rina tersenyum. “Tapi ayah, bukankah ini tidak pantas dilakukan oleh satu orang ayah calon pengantin laki laki?”
Darma memandangi gimana bibir Rina yg terhubung dikala berbicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring bersama tangannya yg meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Tak se patut apa yg dapat kulakukan padamu.”
Rina menggigit bibirnya & mendorong pantatnya menekan penisnya yg mengeras.
“Aku nggak sabar,” bisiknya.
Sejenak setelah itu Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya diwaktu dirinya melepaskan sabuk & membiarkan celananya jatuh turun. Dgn gampang tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik nafas dalam-dalam ketika dirinya merasakan daging kepala penisnya menekan bibir vaginanya yg masihlah basah.. Ia mengerang & memegangi tepian washtafel diwaktu dgn perlahan Darma mulai sejak mendorongkan batang penis itu memasukinya. Rina merasakan bibir vaginanya jadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bidang dalamnya melebar utk menerimanya.
“Apa ini terasa lebih baik dari penis putaku?” Darma tersenyum puas. Ia tahu se berapa ukuran penis putranya, & dirinya percaya jika putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa teramat fantastis kepada batang penisnya, dgn serta-merta dirinya sadar jika dirinya pantas buat menyetubuhi calon menantunya paling sering di bandingkan putranya. & beliau meraih firasat seandainya beliau dapat melakukannya kapanpun mereka mempunyai peluang.
“Oh brengsek!!! Ya Ayah… ayo… beri saya yg paling baik buat merayakan pernikahanku dgn putra kecilmu.” ia lebih membungkuk ke bawah, & merasakan tangan Darma terhadap pinggulnya. Dirinya mencengkeramnya bersama erat & sejak mulai memompanya ke luar masuk. Mereka sadar bakal terlambat menghadiri upacara pernikahan, namun Darma menentukan vagina sang mempelai perempuan memang lah berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yg lama. Rina mengerang & menjerit & bergoyang terhadap batang penis itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin kala menyalurkan nafsu terlarang mereka.
Rina merasa amat amat sangat nakal, disetubuhi bersama patut & keras oleh ayah calon suaminya cocok sebelum upacara pernikahannya. Darma merasakan vaginanya mengencang terhadap batang penisnya, & kali ini, dirinya merasa seluruhnya badan Rina mengejang sepanjang orgasmenya. Perempuan ini merupakan pemandangan paling indah yg sempat disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti suatu busur panah yg direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan bakal merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya ketika dirinya konsisten menyetubuhinya.
Beliau sudah membuatnya mendapati orgasme seperti ini tatkala tiga kali, sampai ia hampir rubuh diatas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya nyaris terasa kelelahan utk orgasme lagi. Tetapi Darma tahu dengan cara apa membawanya ke sana.
“Kamu menginginkan spermaku, iya kan, Rina? Anda mau biar saya mengisimu & menciptakan vaginamu terlumuri spermaku yg telah mengering ketika terjadi di altar pernikahanmu, benar kan perempuan jalangku?”
“Oh ya… yaaa!” sang pengantin perempuan sejak mulai kesusahan bernafas, & Darma mampu merasakannya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yg ia sanggup, bersama tiap-tiap dorongan yg keras, & cepat saja ia merasakan sensasi terbakar itu A?a,?AEs & beliau tahu beliau tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Pas kala penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yg tidak sedikit ke dalam kandungannya, beliau merasakan badan Rina menegang & orgasme utk sekali lagi.
Dicabutnya batang penisnya ke luar, menonton lelehan sperma yg mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum. “Aku bakal menunggu di mobil, Rina…”
Perlahan Rina bangkit, masihlah menggelenyar dikarenakan sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut & bocor. “Mmm, okelah ayah.”
Dirinya memutuskan buat lakukan “tradisinya” & & mengorek sperma ayah Hans dari pahanya dgn jari tangan kirinya yg dilingkari oleh cincin berlian pemberian Hans.
Ketika Darma menonton mempelai perempuan putranya masuk ke dalam mobil, telah rapi & bersih, nampak segar pun berbinar wajahnya & siap utk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yg terpantul dari kaca mobil yaitu waktu Rina memandang pas di matanya & menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya…
